TIMES KEPAHIANG, JAKARTA – Masa depan Ruben Amorim di Manchester United mulai dipenuhi tanda tanya. Pelatih asal Portugal itu secara terbuka menyuarakan ketidakpuasannya terhadap perannya di Old Trafford, seraya menegaskan bahwa ia ingin bertindak sebagai manajer penuh, bukan sekadar pelatih tim.
Pernyataan tersebut disampaikan Amorim menyusul hasil imbang 1-1 melawan Leeds United dalam lanjutan Liga Inggris, Minggu (4/1/2026) waktu setempat. Ia kembali menegaskan komentar sebelumnya yang dilontarkan pada Jumat, terkait kekecewaannya atas kemungkinan tidak adanya pemain baru yang direkrut Manchester United pada bursa transfer Januari.
Amorim, yang resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala United sejak November 2024 dengan kontrak hingga Juni 2027, mengisyaratkan adanya ketegangan internal dalam struktur klub. Ia bahkan menyinggung peran direktur olahraga dan tim pencari bakat, yang menurutnya harus bekerja lebih optimal.
“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan hanya pelatih,” ujar Amorim. “Tugas saya jelas, begitu pula tugas setiap departemen. Tim scouting dan direktur olahraga harus melakukan pekerjaan mereka.”
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal adanya tarik-menarik kewenangan di balik layar Old Trafford, terutama terkait pengambilan keputusan strategis di luar urusan teknis di lapangan. Amorim juga menegaskan bahwa ia menyadari namanya belum sebesar sejumlah pelatih top dunia, namun statusnya sebagai manajer United tetap harus dihormati.
Ia menyebut akan menjalankan tugasnya sesuai kesepakatan yang ada. “Saya akan bekerja selama 18 bulan atau sampai klub memutuskan untuk berubah. Saya tidak akan mundur. Saya akan menjalankan tugas saya sampai ada orang lain yang menggantikan saya,” tegasnya.
Selain soal internal klub, Amorim juga menyinggung tekanan eksternal yang kerap datang dari mantan pemain Manchester United yang kini menjadi pengamat di media. Ia menilai kritik dari figur-figur seperti Gary Neville dan Paul Scholes menjadi bagian dari dinamika klub besar, namun perlu disikapi dengan kedewasaan.
“Jika klub tidak bisa menghadapi kritik dari para pengamat dan mantan pemain, maka ada hal yang harus diubah di dalam klub itu sendiri,” katanya.
Pernyataan terbuka Amorim ini menambah daftar isu non-teknis yang tengah dihadapi Manchester United. Di tengah performa yang belum sepenuhnya stabil, dinamika kekuasaan dan arah kebijakan klub kini ikut menjadi sorotan publik. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Ruben Amorim Kirim Sinyal Retak di Manchester United: Saya Bukan Sekadar Pelatih
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |